“Di revisi lagi Mir?” tanyaku pada Mirna yang baru saja pulang dari petualangannya menjumpai dosen pembimbing.
Kenapa aku bilang berpetualang? Karena dosen pembimbing Mirna sangat mobile. Beliau bisa berpindah tempat dalam kurun waktu lima menit. Ingatlah! Jika beliau meminta bertemu di kampus kau harus segera sampai di kampus kurang dari lima menit atau beliau sudah menghilang dan memberitahukan dimana tempat pertemuan berikutnya. Seharusnya aku tidak perlu bertanya karena wajah Mirna sudah sangat menggambarkan apa yang terjadi.
“Kurang lebih.”
“Apalagi?”
“Biasa. Typo, tanda baca.”
“Lagi? Bukannya udah gue bantuin benerin kemarin?”
Mirna hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng dan menyerahkan kertas skripsinya.
“Enggak ada coretan nih,” ujarku sambil membolak-balikkan kertas skripsinya. “Eh? Titik diakhir kalimatnya pada kemana?”
“Gue hapus. Lo tau kan kenapa gue membenci titik.”
“Jangan bilang…” gantungku berharap apa yang aku pikirkan tidak sejalan dengan alasannya membenci titik.
“Iya. Karena dia tidak berseru, dia tidak bertanya tapi dia mengakhiri.”
"..."
No comments:
Post a Comment