“Aku enggak suka cowok perokok,” berangku kepada orang yang baru aku temui hari ini.
“Maaf, aku bosan menunggu. Kalau detik jam ku tidak berbohong sudah berkisar 45 menit. Punya alasan yang baik untuk aku menunggu?” balasnya sambil mematikan rokok dan menebarkan parfum sehingga bau rokok itu menghilang.
“Mau alasan klasik atau yang luar biasa?” tanyaku asal.
“Luar biasa,” balasnya yakin.
“Elang kendaraanku minta makan di perjalanan, tapi gak ada yang jualan biji-bijian. Belum lagi ada sekumpulan angsa yang ingin bermigrasi ke kutub selatan,” jelasku padanya
“Habis bensin dan macet? Klasik.” Celanya yang tau makna alasan luar biasa ku.
“..dan satu lagi. Aku melihat mahkota sang pangeran sedang dilelang dan aku memutuskan untuk membelinya.” Jelasku sambil memberikan topi padanya. “Selamat ulang tahun, pangeran!”
Aku sengaja memilih hari ini untuk bertemu dengannya, Rio, seorang arsitektur yang aku kenal lewat jejaring sosial dua tahun yang lalu. Waktu itu aku masih SMA dan dia masih mahasiswa, dia kuliah di Bandung dan aku bersekolah di Palembang. Dan waktu itu dia dan aku masih punya pacar.
Sekarang aku sudah mahasiswa dan dia bekerja. Sekarang pula takdir menyatukan kami bertemu di ibukota dengan status yang sama.
“Danke,” balasnya sambil mengenakan topi hadiah dariku.
Aku melihat gadis yang mulai berbisik di meja seberang. Matanya menatap kagum terhadap sesosok mahluk di hadapanku. Sesosok mahluk dengan kaus putih dan celana jeans ketat. Disertai muka tampan, kulit putih, tinggi dan dua lesung pipit yang begitu menawan.
“Ri, kamu di bisikin tuh kayaknya,” bisikku pada Rio.
“Ganteng sih.”
“Gaya kamu sih abege banget, padahal udah berumur,” ejekku kepadanya.
“Tega kamu ngejekin orang tua. Padahal akunya baru pulang dari perjalanan jauh.”
“Enggak nanya sih sebenernya,” balasku disertai senyum yang tulus.
“Widih, tega bener. Perlu belajar nih. Tapi sebenar nya jurus tega kamu gak bakal mempan, tanpa didukung keahlian kamu nyari perhatian lawan bicara kamu.”
“aku nggak nyari perhatian kamu,” ucapku.
“Tanpa disengaja,” balasnya sambil melukiskan tanda hati di udara.
“Pasti golongan darah B, santai, penggombal, easy going, bebas, dan paling menikmati hidup. Aku enggak begitu suka,” terangku.
“Golongan darah kamu apa?” tanyanya tanpa menggubris penilaianku barusan.
“A”
“mama kamu?”
“A, papa juga, kakak, nenek, kakek..”
“Well, golongan darah aku A.” potongnya. “Nikah yuk.”
Lesung pipitnya langsung tergambar diwajahnya. Aku terdiam. Lama
Maka izinkanlah aku, mencintaimu
Atau bolehkan aku sekedar, sayang padamu