Sunday, January 27, 2019

Titik

“Di revisi lagi Mir?” tanyaku pada Mirna yang baru saja pulang dari petualangannya menjumpai dosen pembimbing.
Kenapa aku bilang berpetualang? Karena dosen pembimbing Mirna sangat mobile. Beliau bisa berpindah tempat dalam kurun waktu lima menit. Ingatlah! Jika beliau meminta bertemu di kampus kau harus segera sampai di kampus kurang dari lima menit atau beliau sudah menghilang dan memberitahukan dimana tempat pertemuan berikutnya. Seharusnya aku tidak perlu bertanya karena wajah Mirna sudah sangat menggambarkan apa yang terjadi.
“Kurang lebih.”
“Apalagi?”
“Biasa. Typo, tanda baca.”
“Lagi? Bukannya udah gue bantuin benerin kemarin?”
Mirna hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng dan menyerahkan kertas skripsinya.
“Enggak ada coretan nih,” ujarku  sambil membolak-balikkan kertas skripsinya. “Eh? Titik diakhir kalimatnya pada kemana?”
“Gue hapus. Lo tau kan kenapa gue membenci titik.”
“Jangan bilang…” gantungku berharap apa yang aku pikirkan tidak sejalan dengan alasannya membenci titik.
“Iya. Karena dia tidak berseru, dia tidak bertanya tapi dia mengakhiri.”
"..."

Kala Cinta Menggoda

“Aku enggak suka cowok perokok,” berangku kepada orang yang baru aku temui hari ini.
“Maaf, aku bosan menunggu. Kalau detik jam ku tidak berbohong sudah berkisar 45 menit. Punya alasan yang baik untuk aku menunggu?” balasnya sambil mematikan rokok dan menebarkan parfum sehingga bau rokok itu menghilang.
“Mau alasan klasik atau yang luar biasa?” tanyaku asal.
“Luar biasa,” balasnya yakin.
“Elang kendaraanku minta makan di perjalanan, tapi gak ada yang jualan biji-bijian. Belum lagi ada sekumpulan angsa yang ingin bermigrasi ke kutub selatan,” jelasku padanya
“Habis bensin dan macet? Klasik.” Celanya yang tau makna alasan luar biasa ku.
“..dan satu lagi. Aku melihat mahkota sang pangeran sedang dilelang dan aku memutuskan untuk membelinya.” Jelasku sambil memberikan topi padanya. “Selamat ulang tahun, pangeran!”
Aku sengaja memilih hari ini untuk bertemu dengannya, Rio, seorang arsitektur yang aku kenal lewat jejaring sosial dua tahun yang lalu. Waktu itu aku masih SMA dan dia masih mahasiswa, dia kuliah di Bandung dan aku bersekolah di Palembang. Dan waktu itu dia dan aku masih punya pacar.
Sekarang aku sudah mahasiswa dan dia bekerja. Sekarang pula takdir menyatukan kami bertemu di ibukota dengan status yang sama.
“Danke,” balasnya sambil mengenakan topi hadiah dariku.
Aku melihat gadis yang mulai berbisik di meja seberang. Matanya menatap kagum terhadap sesosok mahluk di hadapanku. Sesosok mahluk dengan kaus putih dan celana jeans ketat. Disertai muka tampan, kulit putih, tinggi dan dua lesung pipit yang begitu menawan.
“Ri, kamu di bisikin tuh kayaknya,” bisikku pada Rio.
“Ganteng sih.”
“Gaya kamu sih abege banget, padahal udah berumur,” ejekku kepadanya.
“Tega kamu ngejekin orang tua. Padahal akunya baru pulang dari perjalanan jauh.”
“Enggak nanya sih sebenernya,” balasku disertai senyum yang tulus.
“Widih, tega bener. Perlu belajar nih. Tapi sebenar nya jurus tega kamu gak bakal mempan, tanpa didukung keahlian kamu nyari perhatian lawan bicara kamu.”
“aku nggak nyari perhatian kamu,” ucapku.
“Tanpa disengaja,” balasnya sambil melukiskan tanda hati di udara.
“Pasti golongan darah B, santai, penggombal, easy going, bebas, dan paling menikmati hidup. Aku enggak begitu suka,” terangku.
“Golongan darah kamu apa?” tanyanya tanpa menggubris penilaianku barusan.
“A”
“mama kamu?”
“A, papa juga, kakak, nenek, kakek..”
“Well, golongan darah aku A.” potongnya. “Nikah yuk.”
Lesung pipitnya langsung tergambar diwajahnya. Aku terdiam. Lama

Maka izinkanlah aku, mencintaimu
Atau bolehkan aku sekedar, sayang padamu

sedalam ini, sebesar ini

banyak yang ingin aku katakan..
banyak yang ingin aku ceritakan..
banyak yang ingin aku beritahukan..
banyak. sangat banyak. hingga aku tidak tau darimana aku harus memulai.
pernah melihat orang minum racun dan berharap orang lain yang mati?
pernah berpikir bahwa kau tak berhak marah karna kau salah?
atau kau tak perlu marah karna kau tak bersalah?
pernah berpikir aku akan mencintaimu? sedalam ini. sebesar ini.

Mutualisme

Hari ini tepat 100 hari kita bertemu, berkenalan. Awalnya kita tidak tertarik satu sama lain. Sama sekali tidak. Sampai akhirnya kita tau rahasia masing-masing. Kita mulai bertegur sapa dan semakin dekat. Semakin dekat. Sampai-sampai seluruh sekolah menganggap kalau kita pacaran. Apa itu benar? Aku sama sekali tidak ingin menyangkal. Aku bahkan berterima kasih. Karena dengan anggapan itu kami bisa menutupi rahasia kami. Bahwa aku punya pacar lelaki dan dia punya pacar wanita. Ya benar, aku gay dan dia lesbi. Mutualisme bukan?

Lantas?

Dulu rasanya aku ingin sekali bisa membaca pikiran orang lain. Apa yang mereka pikirkan ketika tertawa, sedih, marah ataupun yang lainnya. Tapi ternyata membaca pikiran dan mengetahui perasaan orang lain itu membuatku mual. Terlalu banyak orang di muka bumi ini yang bersandiwara. Dalam tawa yang begitu meriah ternyata rasa iri muncul, dalam kesedihan yang mendalam, kebohongan timbul, dalam rona malu, ria hadir. Aku baru sadar satu hal, dunia ini penuh dengan kepura-puraan. Bahkan mungkin aku salah satu diantaranya. Entahlah, pada akhirnya semua yang kita kerjakan pasti akan mendapat balasannya.