Saturday, April 11, 2020

hadiah [part1]

Halo sayang,
Sudah pulangkah? Seperti biasa makan malammu sudah aku siapkan.
Ah, pasti kau sudah makan malam diluar lagi kan.
Terkadang aku berpikir nasibku sama dengan  makan malam ini. Kau tinggalkan karena memilih makan malam diluar sana.Tapi setidaknya makan malam bisa dipanaskan untuk sarapan pagi besok. Itupun jika kau tidak terbur-buru dan memutuskan untuk sarapan di kantor. Lalu sarapan itu aku panaskan lagi untuk makan siang, sampai aku sadar bahwa kau tidak pernah makan siang di rumah. Dan akhirnya makan malam itu pun terbuang seperti perasaanmu padaku yang seolah hilang.
Selamat hari pernikahan yang ke 11 tahun sayang. Kata orang pernikahan terberat itu ketika menginjak 10 tahun pertama, masa pengenalan. Ya, selama 10 tahun kita bersama terlalu banyak pertengkaran diantara kita. Dan aku bertahan bukan? Tapi kata orang ya tetap saja kata orang. Mau sepuluh tahun, sebelas tahun, dua puluh tahun atau bahkan ratusan tahun pun itu semua tergantung yang menjalani bukan? Menjalani kehidupan bersama dengan dua insan yang berbeda, dua pemikiran yang berbeda pasti ada saja yang tidak sejalan.
Oh iya, ada hadiah kecil untuk hari pernikahan kita. Coba lihat disudut meja! Kau sudah melihatnya? Itu surat perceraian kita. Kau pasti belum menyiapkan kado untuk hari pernikahan kita kan? Atau mungkin kau lupa? Kalau begitu sebagai kadonya bolehkan aku meminta tanda tangan persetujuanmu untuk perceraian kita?
Terima kasih jika kamu mengerti, semoga kamu selalu bahagia bersama siapapun yang mendampingimu.
Salam sayang,
Aku yang mencintaimu

“Cerai itu bukan main-main loh mbak,” terang Naya kepadaku. “Udah sebelas tahun enggak sayang? Kalau masalah wanita lain kan bisa mbak kasih masukan mungkin si mas lagi masuk tahap puber kedua jadi cenderung khilaf,” sambungnya lagi.
“Aku orang yang paling enggak mau cerai Nay, aku gak punya apa-apa. Aku enggak punya anak, gak punya kerja, itu yang buat aku sebelas tahun bertahan.”


 ***


Halo (calon) mantan istriku,
Sudahkah kau membuat makan malam untukku malam ini? Oh iya aku lupa kalau kita sudah tidak satu atap lagi selama tiga hari ini.
Kau curang, pergi begitu saja. Aku sudah bilang kan, aku benci hadiah.
Masih ingatkah hadiah terakhir yang kau berikan padaku? Hadiah sukacita yang berakhir dengan kecewa. Kau hadiahi aku dengan kabar kehamilan anak pertama kita. Rasanya aku ingin memberitahu satu dunia bahwa aku akan segera menjadi seorang ayah.

Tapi kabar sukacita itu tidak bertahan lama, ternyata kau tidak hamil melainkan menderita penyakit. Bayangkan aku meneteskan air mata bukan air mata kecewa tapi khawatir akan kondisimu. Dan mulai detik itu aku deklarasikan membenci hadiah bukan?


bersambung

Tuesday, March 31, 2020

Rahasia [fiksi]

"Hari ini tanggal berapa?" tanya Lara padaku disela-sela kesibukannya mengisi angket kerjaan.
"12 April 2019."
"Eh, tau gak? Sebenarnya aku ada tau sesuatu, rahasiasih, tapi kalo aku kasih tau ke kamu jangan marah ya."
Lara menghentikan pekerjaannya, menatapku lekat seolah berencana menceritakan satu textbook tebal.

Tiba-tiba pikiranku terbawa pada hari itu, hari dimana semuanya bermula.

5 Oktober 2017
Dua minggu lagi kamu ulang tahun. Aku rasa aku harus mulai memikirkan kado apa yang harus kuberikan padamu, pacarku yang pertama dan ku harap yang terakhir.

Aku mulai pacaran dengannya sejak
semester dua kelas sebelas. Dia teman sekelasku, populer karena kecuekannya, yang sebenarnya ditunjang oleh fitur tampan parasnya. Tanpa itu kuyakin orang secuek dia hanya dianggap orang aneh.

Aku jatuh cinta padanya karena apa ya? Ku yakini aku wanita biasa yang lemah terhadap lelaki tampan, tapi masa hanya karena itu? Sudahlah, mencintai seseorang memang tidak perlu alasan kan?

Hubungan kami bermula karena keberanianku. Aku yang menyatakan perasaan dan ternyata perasaanku berbalas. Sejak saat itu kami mengubah status kami dan mulai menjalani hari selayaknya orang pacaran. Bertukar pesan, berbicara via telepon, bergandengan tangan, banyak lagi hal yang hanya ingin aku rahasiakan.

Hubungan kami penuh dengan ombak, ombak besar pertama ketika kelas 3, tentang aku yang ingin bimbingan belajar di tempat A dan dia yang didaftarkan temannya di tempat B. Sudah aku bilangkan dia cuek? Bahkan urusan bimbingan belajar juga dia tidak perduli.

Bersambung