Halo
sayang,
Sudah
pulangkah? Seperti biasa makan malammu sudah aku siapkan.
Ah,
pasti kau sudah makan malam diluar lagi kan.
Terkadang
aku berpikir nasibku sama dengan makan
malam ini. Kau tinggalkan karena memilih makan malam diluar sana.Tapi setidaknya
makan malam bisa dipanaskan untuk sarapan pagi besok. Itupun jika kau tidak
terbur-buru dan memutuskan untuk sarapan di kantor. Lalu sarapan itu aku
panaskan lagi untuk makan siang, sampai aku sadar bahwa kau tidak pernah makan
siang di rumah. Dan akhirnya makan malam itu pun terbuang seperti perasaanmu
padaku yang seolah hilang.
Selamat
hari pernikahan yang ke 11 tahun sayang. Kata orang pernikahan terberat itu
ketika menginjak 10 tahun pertama, masa pengenalan. Ya, selama 10 tahun kita
bersama terlalu banyak pertengkaran diantara kita. Dan aku bertahan bukan? Tapi
kata orang ya tetap saja kata orang. Mau sepuluh tahun, sebelas tahun, dua
puluh tahun atau bahkan ratusan tahun pun itu semua tergantung yang menjalani
bukan? Menjalani kehidupan bersama dengan dua insan yang berbeda, dua pemikiran
yang berbeda pasti ada saja yang tidak sejalan.
Oh
iya, ada hadiah kecil untuk hari pernikahan kita. Coba lihat disudut meja! Kau
sudah melihatnya? Itu surat perceraian kita. Kau pasti belum menyiapkan kado untuk
hari pernikahan kita kan? Atau mungkin kau lupa? Kalau begitu sebagai kadonya
bolehkan aku meminta tanda tangan persetujuanmu untuk perceraian kita?
Terima
kasih jika kamu mengerti, semoga kamu selalu bahagia bersama siapapun yang
mendampingimu.
Salam
sayang,
Aku
yang mencintaimu
“Cerai itu bukan main-main loh mbak,” terang Naya
kepadaku. “Udah sebelas tahun enggak sayang? Kalau masalah wanita lain kan bisa
mbak kasih masukan mungkin si mas lagi masuk tahap puber kedua jadi cenderung
khilaf,” sambungnya lagi.
“Aku orang yang paling
enggak mau cerai Nay, aku gak punya apa-apa. Aku enggak punya anak, gak punya
kerja, itu yang buat aku sebelas tahun bertahan.”
***
Halo
(calon) mantan istriku,
Sudahkah
kau membuat makan malam untukku malam ini? Oh iya aku lupa kalau kita sudah
tidak satu atap lagi selama tiga hari ini.
Kau
curang, pergi begitu saja. Aku sudah bilang kan, aku benci hadiah.
Masih
ingatkah hadiah terakhir yang kau berikan padaku? Hadiah sukacita yang berakhir
dengan kecewa. Kau hadiahi aku dengan kabar kehamilan anak pertama kita.
Rasanya aku ingin memberitahu satu dunia bahwa aku akan segera menjadi seorang
ayah.
Tapi
kabar sukacita itu tidak bertahan lama, ternyata kau tidak hamil melainkan
menderita penyakit. Bayangkan aku meneteskan air mata bukan air mata kecewa
tapi khawatir akan kondisimu. Dan mulai detik itu aku deklarasikan membenci
hadiah bukan?
bersambung